Home / Berita / Teror London: Mata Hati yang Tertutup

Teror London: Mata Hati yang Tertutup

 

Gedung Parlemen di Westminster London, Inggris pada kamis kemarin (23/03/2017) dikejutkan dengan aksi brutal seorang peneror yang menabrak pagar Gedung Parlemen Inggris dengan terlebih dahulu menabrak pejalan kaki hingga menewaskan 4 orang nyawa yang tidak berdosa dan puluhan lainnya terluka. Sang pelaku melanjutkan aksi teror dengan lari menuju Gedung Parlemen dan menusuk petugas keamanan yang mencoba menghalanginya dan sang pelaku tewas tertembak setelah kemamanan setempat menembaknya.1

Polisi London mengemukakan bahwa identitas pelaku ada keterkaitanya dengan jaringan terorisme. Gedung Parlemen menjadi sasaran pelaku teror karena Gedung tersebut melambangkan demokrasi, kebebasan, hak asasi manusia, aturan hukum dan hormat atas kebebasan. Sang pelaku diduga pihak yang bertentangan paham dengan nilai-nilai Parlemen Inggris.

Aksi teror merupakan suatu perbuatan keji yang sulit diterima sebagai perbuatan seorang manusia, namun pelakukanya ialah manusia itu sendiri sebagai mahluk sosial. Tetapi di saat mata hati telah tertutup, akhirnya pelaku tidak segan untuk melakukan aksi teror sesama manusia sampai melenyapkan nyawa manusia yang tidak bersalah.

Dalam kasus di atas, masyarakat yang sedang melakukan aktivitas, tiba-tiba harus menerima perlakuan pahit dari pelaku teror seperti para korban aksi teror london pada 23 maret kemarin, yakni menjadi korban tindakan terorisme. Pelaku teror semua hampir berdalih bahwa tindakannya merupakan suatu kebenaran atau perjuangan. Namun apakah dibenarkan perjuangan yang membuat panik dan masalah di masyarakat? Padahal hakikat perjuangan ialah berusaha untuk mencapai target tertentu, tapi target yang dimaksud ialah mendapat nilai keutamaan tanpa ada pihak yang mersa dirugikan.

Sama halnya terorisme di Indonesia yang kerap melakukan teror, mereka merasa bahwa perbuatanya merupakan perjuangan atas nama agama, tapi agama apa yang mengajarkan aksinya? Sebab hati yang tertutup itu yang membuat seseorang tanpa perasaan melakukan teror di masyarakat.

Aksi teror London kemarin, mendapat tanggapan dari sang Walikota Sadiq Khan, pria berusia 45 tahun dan menjadi walikota pertama dengan beragama muslim itu mengatakan  “Kota kita masih menjadi salah satu yang paling aman di dunia. London adalah kota terbaik di dunia dan kita akan berdiri bersama-sama menghadapi mereka yang berencana melukai kita dan menghancurkan cara hidup kita”. Sang walikota menambahkan bahwa warga London tidak akan pernah takut dengan namanya terorisme.2

Kata “tidak pernah takut dengan namanya terorisme” harus kita miliki untuk menolak terorisme, sebab pelaku teror tidak memiliki tempat hidup di masyarakat. Mereka memilih hidup dengan mengasingkan diri dari bersosial dengan masyarat, sebab kehadirannya sebagai terorisme tidak boleh diketahui oleh publik, mereka akan muncul pada masa untuk meneror sebagai tujuan hidup yang mereka agap sebagai kemuliaan.

Kemudian teror London mendapat respon serius dari presiden Indonesia, Joko Widodo. Beliau sangat prihatin dan berbela sungkawa atas aksi teror di London kemarin dan ia pun berpendapat bahwa mengatasi aksi terorisme tidak hanya dilakukan melalui sektor hukum dan keamanan, tapi perlu adanya pendekatan secara budaya dan agama.3

Tentu saja sektor hukum hanya sebagai alat penindakan terhadap pelaku teror, adapun hukum tertulis terkait aksi terorisme hanya sebagai teks hukum semata, sebarat apapun hukum yang ditulis tidak memberi jera kepada kelompok terorisme. Sedangkan pendekatan secara budaya dan agama merupakan cara penaggulangan untuk mencegah masyarakat terlibat dalam aksi terorisme.

Sepertinya aksi terorisme akan terus terulang, selama bibit radikalime tumbuh subur di sekitar kehidupan manusia, pada dasarnya semua sepakat bahwa aksi teror merupakan perbuatan keji yang tidak perikemanusiaan. Tapi sebab ada kelompok manusia yang pola pikirnya telah terdoktrinisasi sehingga perbuatan teror yang jelas merupakan suatu tindakan kriminal, namun dianggap sebagai suatu kebajikan sebab terbungkus rapi dengan pandangan bahwa teror adalah perjuangan (jihad).

Cukup bagi kita dari aksi teror yang sering terjadi, seperti teror Landon menjadi suatu pelajaran hidup dan mawas diri untuk tidak terbujuk dalam paham radikal yang banyak kita temui di lingkungan masyarakat atau terlebih di dunia maya yakni internet, dimana peredaran paham radikal begitu luas tersebar dengan provokatif. Tekad dari diri sendiri merupakan modal untuk terhindar dari paham radikal dan menolak keberadaanya dari kehidupan manusia, tidak cukup memelihara diri dari paham radikal yang berbuah aksi teror. Namun, kita mengajak semua elemen masyarakat untuk menjadi warga negara yang baik.

 

Sumber :

1 https://m.tempo.co/read/news/2017/03/23/078858821/teror-london-jokowi-serukan-kerja-sama-perangi-terorisme

2 http://global.liputan6.com/read/2896384/wali-kota-muslim-london-warga-tak-akan-takut-dengan-terorisme

3 https://m.tempo.co/read/news/2017/03/23/078858821/teror-london-jokowi-serukan-kerja-sama-perangi-terorisme

 

Facebook Comments

About Irsan Rasyad

Mahasiswa aktif dalam Pendidikan Sarjana S1 Program Studi Digital Communication, Surya University Tangerang, Banten. Alumni Pondok Pesantren Annur Azzubaidi, Konawe Sulawesi Tenggara ini juga aktif sebagai anggota Duta Damai Dunia Maya BNPT untuk regional Jakarta.

Check Also

Kisah Ahli Ibadah bulan Dzulhijjah yang Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Watch Dragon ball super