Home / Opini / Salah Sikap Sesama Umat Beragama

Salah Sikap Sesama Umat Beragama

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil” (muqsiṭ). Al-mutahannah (60)9

Ayat di atas menerangkan bahwa bersikap adil kepada manusia selagi bukan menjadi musuhnya maka keadilan harus ditegakkan. Terjaminnya keadilan merupakan hak setiap manusia untuk memperolehnya. Namun apa yang terjadi jika tempat beribadah seseorang disegel? Membuat peribadatan terhalang!

Fenomena penutupan tempat ibadah bukan pertama kali terjadi di Indonesia, semua didasari karena penilaian atas ajaran agama yang tidak sesuai dengan agama pada umumnya. Masjid Ahmadiyah di Depok disegel oleh Pemerintah Daerah Depok yang dilakukan oleh Satpol PP pada kamis 23/02/2017. Setelah mendapat kencaman keras dari masyarakat setempat karena Ahmadiyah di nilai melenceng dari ajaran Islam.

Penyegelan Masjid Ahmdiyah di Depok tersebut sudah dilakukan ke-tujuh kalinya. Tahun 2012 2 kali , 2014 4 kali, 2015 dan 2016 satu kali. Menurut AKBP Henry Heryawan selaku Kapolres tidak ikut andil dalam penyegelan tersebut karena tidak adanya dasar hukum yang jelas atas tindakan penyegelan tempat ibadah tersebut, keterangan tersebut diperkuat dengan pernyataan yang sama oleh Farid Mahmud selaku Mubaligh Jamaah Ahmadiyah Indonesia kepada BBC Indonesia (BBC).

Sikap yang menolak Ahmadiyah dengan cara penyegelan tempat ibadah merupakan tindakan merebut hak warga negara untuk memperoleh kebebasan Ibadah. Sangat disayangkan sikap massa yang menolak Ahmadiyah atas dasar yang kurang dipertanggungjawabkan secara hukum.

Kembali kepada ayat Al-Mutahannah pada kutipan di atas, bahwa islam menjanjikan kepada manusia dengan agama apapun selagi tidak memusuhi Islam maka kebebasan setiap individu akan terjaga. Namun, segelintir umat Islam lupa akan ayat ini yang sesungguhnya islam sangat menjaga keadilan bagi umat manusia.

Secara pandangan ulama ahlussunnah, sesuai kesepakatan Fatwa Rabitha Al-Islam bahwa Ahmadiyah dianggap ajaran sesat bagi Islam karena meyakini adanya nabi setelah Muhammad SAW dan memiliki kitab selain Al-Quran yaknu Kitab Tadzkirah (Republika).

Jika dilihat dari arah ajaranya memang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang kaffah. Namun kita melihat dari sisi kebebasan individu dalam beragama. Ajaran ahmadiyah hadir di Indonesia bukan menjadi musuh bagi Islam ahlusunnah, mereka hanya kelompok kecil yang mengamalkan ajaran sesuai yang mereka yakini, sepatutnya umat islam memahami keberadaan Ahmadiyyah, bukan karena ajaranya yang berbeda dengan Islam pada umumnya, lantas melakukan kehendak pribadi yang menerobos batas hak asasi manusia.

Mari kita mengingat hadits berikut:
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan

Perpecahan umat beragama sudah menjadi suatu kewajaran. Nabi Muhammad saw sudah memprediksi hal tersebut akan terjadi setelah sepeninggalan beliau. Tidak hanya Islam yang akan mengalami perpecahan paham agama, Nasrani dan Yahudi pun menilai terjadi perpecahan paham agama.

Hal ini menandakan bahwa perbedaan paham dalam agama sudah menjadi sunnahtullah atau ketentuan tuhan YME, lantas apakah kehendak kita masih menginginkan Islam menjadi satu paham? Sedangakn sunnahtullah telah menetapkan bahwa Islam akan terpecah menjadi 73 golongan?

MENEPIS KEEGOISAN BERAGAMA

Umat islam yang meyakini kitab tuntunan dan hadits nabinya, tentu mengetahui bersikap yang bijak dalam menanggapi perbedaan dalam pemahaman Islam. Ahmadiyyah yang dinilai lari dari ketentuan ajaran islam, seharunya tidak ditindak secara tegas keberadaanya. Baiknya 2 point untuk mensikapi perbedaan yang dinilai ajaran agamanya bertentangan dengan ketentuan umum yang berlaku di masyarakat.
1. Membiarkanya selagi tidak memancing provikasi karena perbedaannya.
2. Mengajak dengan hikmah dan santun kepada perbedaan yang di nilai perlu diperbaiki.

Bagian pertama bersikap membiarkan keberadaan suatu perbedaan faham, selagi faham tersebut tidak memicu api permusuhan. Ini merupakan sikap menghargai hak seseorang untuk menentukan arah kepercayaanya sendiri. Manusia merupakan mahluk yang memiliki daya pikir untuk menentukan arah jalan hidupnya sendiri.

Namun jika hendak mengubah faham yang dianggap keliru ialah dengan mengajak secara ramah dan santun dengab penuh hikmah.

Jika menuruti keegoisan pribadi dalam beragama, seperti penyegelan tempat peribadatan, justru merenggut hak warga negara dalam kebebasan beribadah dan perbuatan tersebut bukan menyelesaikan masalah, justru akan menimbulkan perselisihan antar umat beragama.

About Irsan Rasyad

Mahasiswa aktif dalam Pendidikan Sarjana S1 Program Studi Digital Communication, Surya University Tangerang, Banten. Alumni Pondok Pesantren Annur Azzubaidi, Konawe Sulawesi Tenggara ini juga aktif sebagai anggota Duta Damai Dunia Maya BNPT untuk regional Jakarta.

Check Also

Islam Memanusiakan Manusia

Diantara sekian problem sosial, kemanusiaan dan keagamaan yang dewasa ini makin merabah baik di tingkat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Watch Dragon ball super