Home / Opini / ‌Di Internet banyak sumber info ngk jelas? Dewan Pers bicara!

‌Di Internet banyak sumber info ngk jelas? Dewan Pers bicara!

Iseng-iseng aku membuka internet dengan keyword “khilafah daulah Islamiyah” seketika tampilah berbagai judul seputar khilafah, tapi aku melihat sumber tulisan berasal dari blog pribadi dan website islam yang pernah dicap sebagai situs radikal yakni Panjimas.com.

Sejenak aku berfikir, kalau seorang islam belajar agama di internet terus yang tampil dari sumber website asing seperti yang saya lakukan sebelumnya, apakah informasi tersebut bisa dipertanggungjawabkan? Opiniku mulai membentuk, apakah berawal seperti ini para paham radikal muncul di masyarakat? Mungkin bisa dikatakan “iya”.

Dewan Pers Imam Wahyudi dalam acara Sarasehan penaggulangan propaganda terorisme di dunia maya yang diadakan oleh Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) beserta Instansi Pemerintah yang hadir berpendapat bahwa rakyat indonesia belum mempersiapkan diri saat menerima suatu informasi, karena kurangnya sikap selektif saat memperoleh informasi.

Tentunya kalian akan sangat setuju dengan pendapat Dewan Pers kalau masyarakat kita masih minim melakukan selektif dan verifikasi dalam menerima informasi. Maka siapa yang harus disalahkan ? Tentunya tidak ada yang salah, mungkin mencari solusi yang perlu dibuat agar masyarakat cerdas saat menaggapi suatu informasi.

Imam Wahyudi selaku Dewan Pers berpendapat bahwa kehadiran berita hoax di internet memiliki 3 faktor penyebab:
1. Perang merebut kebenaran
Suatu pandangan berada dipihak pro dan kontra terkait pandangan tertentu, setiap orang mengklaim pandangannya yang benar dan yang lain itu salah. Perbedaan yang seperti ini memicu individu atau kelompok untuk merebut kebenaran, sekalipun kebenaran itu harus tersamoaikan secara informasi hoax.

2. Masyarakat sebagai pengguna belum siap menerima informasi.
Seperti yang telah diterangkan di atas bahwa kurangnya kesadaran diri para pengguna media internet menyebabkan tidak adanya budaya selektif dan verivikasi terhadap informasi yang diterima. Secara mentah banyak pengguna hanya sebagian menelaah informasi dan mudah terpengaruh dan cepat mengambil keputusan.

3. Media massa belum siap menjalankan kode etik jurnalistik secara sah.
Sesuai keterangan dari Imam Wahyudi bahwa berita hoax di internet maupun di media lainnya akan mudah dapat dicegah atau diatur jika media massa yang independen telah mengikuti kode etik jurnalistik dengan baik.

Kurangnya penerapan kode etik media massa dalam membuat berita akan menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap berita yang disajikan, akhirnya memilih informasi dari sumber yang tidak jelas. Kemudian jika media massa hanya melakukan kerja media sebagai kepentingan politik ekonomi semata, maka massa pun akan bebas memilih media untuk memperoleh informasi. Sekalipun media abal-abal karena yang dibutuhkan informasi yang sesuai kebutuhannya.

Peran media massa tentunya sangat penting, mengingat media massa sebagai jembatan informasi kepada masyarakat dari peristiwa yang harus dikabarkan kepada publik. Namun, apa yang terjadi saat peran media kepada rakyat sudah lentur? Tentunya informasi-informasi hoax akan dengan ganas merebut opini massa.

Menurut Imam Wahyudi ada 4 model Jurnalisme:
a. Jurnalisme Verifikasi
b Jurnalisme Pernyataan
c. Jurnalisme Pengukuhan
d. Jurnalisme Kaum Kepentingan

Imam Wahyudi menuturkan media massa yang independen seharusnya beradan di Jurnalisme Verifikasi yakni budaya seorang jurnalis yang tidak mudah percaya terhadap informasi yang diterimanya dan terus menggali info untuk menemukan ujung kebenarannya.

Selain itu, seorang jurnalis bekerja dengan profesionalismenya sebagai seorang jurnalis tanpa ditunggangi kepentingan politik, ekonomi dan penguasa atau pemilik media.

Mungkin terdengar sulit menjadi media massa yang sepenuhnya menegakkan kebenaran media tanpa ada kepentingan, namun itulah dasar kerja media massa sebagai jembatan informasi kepada publik.

About Irsan Rasyad

Mahasiswa aktif dalam Pendidikan Sarjana S1 Program Studi Digital Communication, Surya University Tangerang, Banten. Alumni Pondok Pesantren Annur Azzubaidi, Konawe Sulawesi Tenggara ini juga aktif sebagai anggota Duta Damai Dunia Maya BNPT untuk regional Jakarta.

Check Also

Cegah Konten Radikalisme dan jadi Duta Damai dengan 3 Cara ini!

Kita Generasi Millennials adalah kader Duta Damai Indonesia. Dengan pengetahuan dan kreativitas yang dimiliki, kita …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Watch Dragon ball super