Home / Opini / Hoax Suatu Industri Kapital

Hoax Suatu Industri Kapital

Kemudahan akses sosial media, tidak sedikit masyarakat memanfaatkannya untuk berkomunikasi, menjaga hubungan relasi, bahkan dapat digunakan sebagai lahan bisnis. Pemanfaatan media sosial pun semakin berkembang, selaras dengan kreatifitas penggunanya dalam menyikapi kehadiran media sosial yang juga semakin berinovasi. Tentunya dibalik itu diiringi dengan kehadiran pihak-pihak yang menjadikan media sosial untuk tujuan kejahatan dunia maya, seperti penyebaran informasi hoax.

Seperti beberapa kasus penyebaran hoax yang pernah terjadi di Dunia Maya. Seperti beredarnya informasi hoax bahwa Jendral Tito Karnavian akan memeriksa Amin Rais yang kemudian dibantah oleh Tito bahwa kabar tersebut merupakan hoax. Selain itu kasus yang melibatkan Presiden Indonesia Jokowi dalam buku “Jokowi Undercover” yang disalah satu halaman buku tersebut mengatakan bahwa Jokowi merupakan garis keturunan darah PKI. Namun secepatnya Jokowi menanyakan kredibilitas sang penulis buku Bambang Tri Mulyono dan setelah ditelusuri bambang pun ditetapkan menjadi tersangka karena menulis hal yang tidak benar atau hoax semata.

Maraknya hoax bukan berarti tidak memiliki tujuan yang hendak dicapai, bisa dikatakan adanya kepentingan politik. Seperti menghina tokoh tertentu atau membuat propaganda terhadap suatu peristiwa tertentu. Bahkan kepentingan untuk memperoleh keuntungan ekonomi pun bisa menjadi tujuan dibuatnya informasi hoax untuk dipublikasikan di media sosial.

Tulisan ini akan mengajak anda menelusuri bahwa informasi hoax merupakan suatu industri kapital yang terdapat kepentingan ekonomi politik dibaliknya. Sebagai berikut
1. Pabrik Hoax
a. Produksi
Tahap produksi ini, tim hoax dengan gencarnya akan membentuk konsep informasi hoax yang dimaksudkan untuk menjatuhkan tokoh, institusi, etnis dan lainnya. Disalurkan dalam bentuk informasi atau foto dengan konten kebencian, Deligitimasi kebenaran, menciptakan kebenaran palsu. Konten informasi yang dirangkai biasanya bombastis, seakan menjadi informasi ter-update dan memiliki pengaruh kuat di opini masyarakat media sosial.
Tentunya harapan yang hendak dicapai dari produksi konten informasi hoax ini ialah dapat mempengaruhi opini masyarakat untuk memunculkan masalah atau menambah dan memperluas masalah yang sudah ada. Sehingga rentan timbulnya konflik dan permusuhan antar sesama pengguna sosial media berupa cacian, hinaan dan lainnya.

2. Makelar Hoax
a. Marketing
Membuat hoax bukan bearti para produsennya tidak di bayar lohh… Tidak mungkin dengan kreatif mereka membuat hoax hanya berdiri sendiri tanpa ada yang menyokong mereka dengan bantuan ekonomi. Para produsen hoax akan menikmati keuntungan atau kasaranya “upah kerja” saat membuat informasi hoax. Hal ini melatarbelakangi keberadaan informasi hoax kian gencar di media sosial karena adanya peluang memperoleh keuntugan ekonomi.

Cara kerja para Buzzer hoax ini seperti: melakukan provokasi secara konten isi, menggunakan hastag agar lebih meluas penyebaran infonya, main akun boat dan sindikasi akun buzzer. Jika diamati, kerja para buzzer hoax pun memiliki strategi dalam pencapaian kerjanya, seperti seberapa efektif info hoax mereka dalam memengaruhi opini masyarakat di media sosial yang dapat ditinjau dari like, komentar dan share oleh pengguna media sosial.

3. Follower
Target audiens buzzer hoax ini tentunya para follower atau pengguna media sosial. Para Buzzer dapat dikatakan sangat cerdik dalam melihat peluang media sosial untuk melakukan provokasi dalam bentuk informasi hoax. Para follower sebagai pengguna media sosial merupakan sukarelawan yang yang tidak dibayar, sedangkan mereka yang sejalan dengan informasi hoax memiliki kepentingan dan kebencian yang sama. Disaat keselarasan tersebut bertemu antara hoax dan audiens, maka kemungkinan besar pengguna akan melakukan like, comment dan share. Sehingga membantu kinerja buzzer hoax dalam memperluas penyebarannya di media sosial.

Seperti itulah gambaran singkat Industri Kapital Hoax yang ada di media sosial, percaya tidak percaya, tentunya kehadiran informasi hoax di-support faktor ekonomi sebagai imbalan kerja untuk mencapai kepentingan politik. Padahal hal tersebut melanggar hukum dan sudah ada ketentuan hukum yang memikatnya. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No 28 Tahun 2009 tentang ITE Pasal 28 ayat 2. Secara hukum tindakan penyebaran informasi hoax melanggar ketentuan hukum yang berlaku.

Namun, keberadaan informasi hoax akan selalu hadir di kehidupan bermedia sosial, sedangkan penegakan aparat hukum akan selalu minindak lanjut tindakan informasi hoax yang mencemarkan nama baik, menyinggung, sara. Dan seebagaainya. Namun, hal tersebut belum lah cukup, yang lebih efektif ialah bagaimana cara membangun masyarakat yang terkoneksi dengan internet untuk sadar dan selektif dalam menerima informasi di interenet atau di media sosial, untuk tercegahnya pengaruh informasi hoax yang marak di dunia maya.

Facebook Comments

About Irsan Rasyad

Mahasiswa aktif dalam Pendidikan Sarjana S1 Program Studi Digital Communication, Surya University Tangerang, Banten. Alumni Pondok Pesantren Annur Azzubaidi, Konawe Sulawesi Tenggara ini juga aktif sebagai anggota Duta Damai Dunia Maya BNPT untuk regional Jakarta.

Check Also

Kisah Ahli Ibadah bulan Dzulhijjah yang Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari …

2 comments

  1. Way cool! Some very valid points! I appreciate you
    writing this article plus the rest of the site is extremely good.

  2. I read this paragraph completely on the topic of the comparison of most up-to-date and previous technologies, it’s awesome
    article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Watch Dragon ball super