Opini

Peran Santri Dalam Memerangi Terorisme di Media Sosial

58164

Kata “santri” yang mengandung makna kaum terpelajar mempunyai peranan yang sangat besar terhadap kemerdekaan Republik Indonesia. Di mana peran santri dalam mendirikan, memperjuangkan, dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia telah banyak tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa ini.

Kita mengetahui bagaimana fatwa “Resolusi Jihad” pada 22 Oktober 1945 yang mana memberikan fatwa bahwa perang membela Tanah Air Indonesia merupakan perang suci. Bagi kaum santri, perjuangan memerdekakan negara Indonesia tercinta adalah wajib hukumnya. Lebih-lebih bangsa Indonesia mayoritas berpenduduk Islam terbesar. Sehingga membela tanah airnya sekaligus juga membela agamanya.

Pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kota Surabaya dengan semangat yang pantang menyerah walaupun dengan senjata seadanya dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari beserta para kiyai, dengan tekat yang bulat dan semangat persatuan, para santri mampu mempertahankan dan menjaga kedaulatan Republik Indonesia dari serangan tentara Inggris.

Dalam pertempuran melawan tentara Inggris tidak henti-hentinya pekikan-pekikan dan suara “Allahu Akbar” dan “Merdeka” menyatu dengan desingan peluru dan dentuman bom untuk membangkitkan semangat perlawanan. Dalam kurun waktu tiga minggu Kota Surabaya benar-benar menjadi ajang pertempuran paling besar yang pernah terjadi dalam sejarah Revolusi Kemerdekaan. Dengan berkat izin allah, akhirnya santri beserta para pejuang kemerdekaan yang lainnya berhasil mempertahakan kedaulatan Indonesia.

Terlepas dari perjuangan tersebut peran santri memang begitu besar. Namun, dalam konteks sekarang, peperangan sudah tidak lagi menggunakan cara-cara fisik, melainkan perang di dunia digital. Dalam kaitan dengan hal ini peran santri dengan semangat keislaman yang lebih besar mampu bekerja sama dengan pemerintah mengendalikan kontra propaganda dan narasi terhadap tindakan-tindakan radikaslisme maupun terorisme.

Santri seharusnya turut serta membantu bangsa Indonesia untuk menghalau perbuatan dan propaganda terorisme di media cyber karena melihat keilmuan yang dimiliki oleh santri di bidang agama lebih tinggi ketimbang masyarakat pada umumnya. Dari para Santri dapat memanfaatkan media sosial untuk sosialisasi dan memberikan pencerahan-pencerahan melalui artikel-artikel, gambar, maupun video.

Bila kaum terorisme memanfaatkan media sosial untuk melakukan propaganda dalam hal keburukan, melalui ribuan santri, kita dapat melakukan kontra narasi propaganda dan membuat viral perdamaian di dunia maya. Hal itu dapat terwujud bila halnya kaum santri mulai bangkit dan kembali membangun tatanan budaya Indonesia.

Kaum Santri di Indonesia mempunyai semangat dan tekat yang kuat untuk terus menjaga kesatuan dan kebihnekaan di Indonesia. Oleh karena itu, bersama para pimpinan pondok pesantren dan para ulama, mari kita membuat narasi perdamaian di media sosial.

Melalui momentum Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2016 mari kita wujudkan kembali semangat jihad, jihadnya bukan lagi peperangan tapi jihad melalui media sosial untuk mempertahankan republik Indonesia dari gempuran narasi-narasi propaganda orang yang tidak bertanggungjawab yang ingin memecah belah negara ini. Mari bersama kita wujudkan kembali negara Indonesia yang damai, berbhineka, dan mencintai keragaman.

Kaum Santri Indonesia Pasti Bisa!

 

Facebook Comments

About the author

Syidik Sulistiyanto

Aktif sebagai Mahasiswa Program Studi Digital Communciation Surya University. Mencintai Indonesia dengan segala keindahannya dan keberagamannya.

Leave a Comment