Home / Opini / Menjadi Pemuda Pahlawan Bangsa

Menjadi Pemuda Pahlawan Bangsa

Pada era postmodern ini manusia disuguhi perangkat berteknologi tinggi yang rupanya cukup memanjakan penggunanya, dengan perangkat ini semua yang dahulunya sulit dilakukan kini menjadi serba instan. Coba kita perhatikan dengan hadirnya smartphone yang menyediakan berbagai aplikasi serta adanya konvergensi digital kita dapat memposting hal-hal positif atau pun negatif di media sosial sesuka kita.

Bahkan lebih jauh, kita mempunyai peluang besar menjadi populer, melalui kontroversi yang kita buat atau karya  positif yang menarik perhatian publik.

Hadirnya  media sosial pun membuat kita dengan instan  dapat berpartisipasi mengurusi isu-isu yang ada di masyarakat, mengkritisi pemerintah dan menghujat kinerjanya, mengadu domba instansi, menjadi kambing hitam, bahkan mirisnya banyak pemuda yang dengan bangga dan tanpa malu mencontohkan perbuatan negatif yang sangat tidak patut dicontoh. Secara tidak langsung merusak pemikiran generasi muda hanya melalui konten-konten yang tidak senonoh tapi membuat penasaran publik.

Sungguh, kita benar-benar terbuai kawan. Jati diri pemuda harapan bangsa perlahan-lahan tergerus jauh dari apa yang diharapkan oleh para pendiri bangsa bahkan ajaran agama yang kita anut. Kebebasan berpendapat ini seharusnya kita manfaatkan untuk membangun jati diri bangsa.

Representasi identitas pemuda saat ini lebih kuat hanya pada bagaimana mendapat pengakuan dari orang lain contohnya “gue selebram banyak endorse, atau gue Vlogger sukses banyak duit, followers gue banyak.”

Apakah Kebanggan pemuda saat ini hanyalah sebatas itu? Mereka kebanyakan mengejar ketenaran di dunia, tidakkah ingin kau terkenal di langit dengan ibadah-ibadah yang kita lakukan tanpa mengumbar dan pamer pada publik?

Apakah tidak boleh menjadi populer di media sosial? Boleh-boleh saja ko. Tapi apakah ketenaran dan konten yang ditawarkan di media sosial kita dapat menjadi teladan ataukah hanya akan menjerumuskan diri sendiri maupun orang lain yang mengikuti?

Sahabat muda, ingat kembali hadits yang diriwayatkan Imam Muslim :

Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga.”

(HR. Muslim no. 1017).

Lantas bagaimana agar kita dapat survive berpegang teguh pada ajaran agama di tengah-tengah media sosial yang menawarkan ketenaran yang instan dan menggiurkan? Sederhana kawan, luruskan niat kita dalam memanfaatkan media sosial. Gunakan untuk sarana berdakwah mengajak kepada kebaikan dengan cara-cara yang sederhana tetapi disukai publik.

Jangan gila popularitas dan haus pujian orang-orang, karena seorang muslim sudah sepantasnya mementingkan penilaian Allah atas dirinya dibandingkan penilaian manusia. Dan Allah sangat memuliakan orang-orang yang bertakwa. Muslim yang bertakwa sudah pasti menghindari hal-hal negatif yang dilarang Allah. Orang-orang yang Ikhlas sangat takut dengan ketenaran. Tapi, Bukan berarti kita mengabaikan penilaian manusia terhadap diri kita. Kenapa?

Seorang pemimpin bernama Ummar bin Khathab pernah berpesan kepada para pejabat di masa kekhilafahannya “Ketahuilah kedudukanmu di mata Allah dilihat dengan cara tingkat penerimaan masyarakat kepadamu”.

Sahabat muda, mumpung kita masih muda mari menjadi khairunnas anfa’uhum linnas. Dan mulailah perbaiki hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama. Ukirlah masa muda yang indah saat dikenang di masa tua nanti.

Jika boleh meminjam nasihat dari seorang penulis religi yang cukup produktif yaitu Ahmad Rifai Rif’an dalam bukunya yang berjudul The Perfect Muslimah beliau berpesan:

“Orangtua yang rajin ibadah itu baik, tapi jauh lebih baik ada anak muda yang ibadahnya hebat. Orangtua yang takut maksiat itu hebat, tapi kalau anak muda yang takut maksiat, jauh lebih mantap”.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri kawan.

 

Penulis : Azka Nurul Kamilah

Facebook Comments

About Azka Nurul Kamilah

Check Also

Kisah Ahli Ibadah bulan Dzulhijjah yang Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Watch Dragon ball super