Home / Opini / Refleksi Semangat 88 Tahun Sumpah Pemuda

Refleksi Semangat 88 Tahun Sumpah Pemuda

jogdas_20150807064813

Hai teman-teman pemuda apa kabar? Masih semangat kan menjalin persatuan dan kesatuan di Indonesia? Mengingat memasuki bulan besar bagi para pemuda, Tim Bunderan ingin melihat kembali dan merefleksikan semangat Sumpah Pemuda. Teman-teman mungkin sudah paham dengan arti Sumpah Pemuda atau masih belum ada yang tahu apa itu Sumpah Pemuda? Jangan takut di sini Tim Bunderan akan membahasnya.

Tahun ini peringatan Sumpah Pemuda memasuki usia 88 tahun sejak di kongreskan pada 1928 di Jakarta. Usia yang sudah dibilang sangat matang untuk membuat negara Indonesia menjadi negara yang berdasakarn asas persatuan dan kesatuan. Apakah benar seperti itu? Lantas bagaimana nilai-nilai yang sudah tertuang dan tertanam di hati pemuda Indonesia selama ini?
Semangat Sumpah Pemuda yang dihadirkan oleh para pemuda Indonesia memang menjadi momentum yang sangat bersejarah bagi negeri ini. Bagaimana tidak adanya kongres sumpah pemuda yang berlangsung antara 27-28 Oktober 1928 di Jakarta mempunyai peranan yang sangat besar terhadap kerukunan dan kebersamaan untuk memerdekakan negeri Indonesia.

 

Bangsa Indonesia pada zaman kolonialisme terpecah belah akitbat kondisi perpolitikan yang dijalankan oleh pemerintahan Hindia Belanda. Bangsa Indonesia masih belum dapat untuk bersatu. Masyarakat Indonesia masih terhambat dengan adanya perbedaan, ras, agama, suku maupun bahasa. Hal itulah menjadi suatu kendala yang dialami bertahun-tahun oleh bangsa Indonesia. Karena situasi sulit seperti itu banyak dari para pemuda melihat kondisi ini tidak menguntungkan untuk bangsa Indonesia karena selalu ditabrakannya dengan politik adu domba atau yang dikenal pada saat itu “Devide et Impera”. Hingga suatu ketika dari kaum pelajar, organisasi, dan golongan kedaerahan yang menyadari akan permasalahan tersebut.

 

Mereka dengan secara sukarela membentuklah suatu wadah yang diawali dari Kongres Pemuda 1 di tahun 1926. Setelah itu secara bertahap dan didukung oleh para pemuda di seluruh Indonesia mulai adanya suatu gerakan untuk diadakannya kongres pemuda kembali. Hingga akhirnya tepat di bukang Agustus 1928 banyak hadir organisasi pergerakan yang mendukung dan memberi masukan kapan akan dilaksanakan. Sehingga sebukan kemudian setelah semua sepakat untuk mengadakan kongres pada 27-28 Oktober 1928. Di mana tempat yang diseujui adalah di Jakarta.

 

Setelah diadakan kongres selama dua hari, tibalah dibacakan keputusan kongres yang di dalam teksnya berisi semangat ikrar dari para pemuda Indonesia. Walaupun berbeda, Suku, Agama, Kedaerahan, Bahasa, semua bersatu untuk melawan kolonialisme.

 

Berikut ini adalah ikrar Sumpah Pemuda

– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Setelah adanya ikrar Sumpah Pemuda berlangsung secara masif berbagai macam pergerakan untuk memerdekekakan Indonesia. Menurut Sutejo K. Widodo dosen jurusan sejarah dari Universitas Diponegoro berpendapat bahwa dahulu sentiment yang ditonjolkan adalah kesukuan dan kedaerahan. Namun, setelah hadirnya dikalahkan oleh rasa kebangsaan, mereka yang membawa nama kedaerahan dan agama sepakat berpikir dan bertindak sebagai satu bangsa. Demi kepentingan bangsa, mereka rela menyampingkan kepentingan organisasi kedaerahan, kesukuan dan keagamaan.

Memaknai Sumpah Pemuda
Dengan adanya proses panjang untuk ikrar Sumpah Pemuda, sudah seharusnya pemuda di Indonesia pada era setelah reformasi ini mempunyai peran yang tak kalah jauh lebih penting. Yakni bagaimana tetap menjaga dan sebisa mungkin untuk menjauhkan dari perbuatan yang merugikan seperti adanya pengrusakan dan menjauhkan diri dari semangat kebersamaan. Pemuda Indonesia dapat menyadari hal itu dan secara bersama-sama saling bahu-membahu kembali membangun Indonesia yang lebih baik lagi ke depannya. Karena perjalanan bangsa Indonesia tidak mungkin akan berakhir dan masa depan bangsa terletak di tangan pemuda.

Sebagaimana kutipan perkataan presiden Ir. Soekarno. “Berikan aku 10 pemuda dan akan aku goncang dunia.” Ben Anderson juga mengemukakan dalam Revolusi Indonesia, bahwa pemuda merupakan sumber kekuatan utama revolusi. Sejarah bangsa Indonesia mencatat runtuhnya dua rezim karena gerakan dari para pemuda. Tritura yang lahir dari gerakan pemuda tahun 1966 berhasil menghapuskan komunisme di tanah air. Dan tentunya masih terekam dengan jelas gerakan reformasi 1998 yang memakan korban sejumlah pemuda dan menjadi titik balik demokrasi di Indonesia, dipelopori oleh pemuda.

 

Oleh karena itu, melalui momentum semangat sumpah pemuda yang ke 88 tahun mari kita kembali ke jalur pemuda Indonesia yang sesungguhnya yakni yang mencintai persatuan dan kesatuan antar sesame umat bangsa jangan sampai kita terpecah belah oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Mari kita bersama menjaga dan membangun Indonesia menjadi lebih baik.

Facebook Comments

About Syidik Sulistiyanto

Aktif sebagai Mahasiswa Program Studi Digital Communciation Surya University. Mencintai Indonesia dengan segala keindahannya dan keberagamannya.

Check Also

Kisah Ahli Ibadah bulan Dzulhijjah yang Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari …

One comment

  1. That inhigst would have saved us a lot of effort early on.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Watch Dragon ball super