Home / Opini / Pentignya berwawasan dalam berilmu untuk cegah paham intoleran

Pentignya berwawasan dalam berilmu untuk cegah paham intoleran

Menuntut ilmu menjadi kewajiban setiap manusia untuk menambah wawasan keilmuan, baik ilmu sosial maupun agama. sedangkan ilmu agama menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia, karena agama sebagai pedoman dalam menjalani segala bentuk kehidupan. Namun, perlu kita pahami dalam menuntut ilmu agama, perlunya membuka wawasan yang tidak sekadar terpaku dalam pemahaman tafsir individu, apalagi tanpa berguru. Munculnya pemahaman radikalisme agama, salah satu penyebabnya ialah dangkalnya wawasan dalam menerima ilmu agama atau menafsirkannya.

Kenapa radikalisme selalu dikaitkan dengan agama?, Menurut Scott M. Thomas (2005) dalam bukunya The Global Resurgence of Religion and The Transformation of International Relation, The Struggle for the Soul of the Twenty-First Century halaman 24 mengemukakan bahwa pemikiran dan gerakan radikal biasanya terkait dengan faktor ideologi dan agama. Sedangkan Fenomena keagamaan islam sekarang, mudah dalam mencari informasi agama setiap saat. Seseorang hanya dengan mengandalkan smartphone bisa belajar agama tanpa dibatasi oleh waktu.

Namun, sayang hal ini memberi rawan akan kekeliruan dalam memaknai suatu pemahaman agama, sebab jika seseorang hanya menelaah Ayat al-quran atau hadits nabi muhammad saw, sebatas artinya. Maka hal ini akan cepat memicu pemahaman intoleran dibeberapa bagian ayat al-qur’an atau hadits nabi, karena hanya mengambil makna secara arti bukan dengan penafsiran secara keilmuan tafsir, sedangkan menafsirkan al-qur’an perlu keilmuan cabang lainnya seperti ilmu nahwu atau sorob, sebab satu ayat atau hadits memiliki runtutan makna yang dalam yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu dan kemampuan tafsir yang baik.

“Demi allah, Sungguh aku telah berniat akan menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku menyuruh mendirikan shalat, lalu dikumandangkan adzannya. Setelah itu aku menyuruh seseorang untuk mengimami jama’ah. Sementara itu aku menyelinap menuju orang-orang yang tidak suka pergi shalat berjama’ah, kemudian aku bakar rumah beserta mereka didalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika hadits diatas dimaknai secara arti, yakni setiap umat islam yang tidak menunaikan shalat secara berjamaah di masjid maka dibolehkan untuk membakar rumah beserta orang yag meninggalkan shalat. Maka dari hal seperti inilah paham radikal lahir yang memicu paham agama garis keras yang ujungnya menebar kebencian. Padahal hadits diatas bukan bearti nabi muhammad saw melakukan seperti arti hadits di atas kepada umat islam, melainkan makna hadits diatas sekadar memperingati umat islam agar tidak meninggalkan shalat.

Nabi muhammad diutus sebagai nabi akhir zaman adalah sebagai rahmat seluruh alam dan setiap perbuatan dan tindakannya selalu mempertimbangkan kebaikan semua manusia. Dengan umat non-muslim saja nabi muhammad saw selalu menunjukkan ahlakul karimah islam yang baik.

Kemudian, jika umat islam dalam menuntut ilmu tanpa ada pembimbing atau guru, maka rentan terkena kekeliruan dalam memaknai arti ayat al-quran dan hadits. Maka peranan seorang guru atau ustad sangat penting sebagai pihak yang mampu membimbing umat islam menuju pada pemahaman agama yang baik dan benar.

Berwawasan berilmu tidak bisa diusahakan atas pemahaman individu, orang ahli ilmu saja memiliki guru sebagai pedoman dalam keilmuannya. Maka sangat penting kita belajar dengan seseorang yang ahli dibidangnya. Hal ini untuk mendapatkan pemaknaan suatu keilmuan dengan benar. Individu yang belajar agama dengan sendiri tanpa penuntun, seperti orang yang berjalan dinegeri orang dengan hanya mengandalkan map tanpa ada pemandu yang mengetahui wilayah negeri tersebut, sehingga bukan pencapaian tujuan yang didapat, justru kebingungan dan kekelirun yang diperoleh.

Maka sudah saatnya keilmuan apapun atau ilmu agama perlu belajar dengan wawasan yang luas yang tidak terpaku pada pemikiran individu dan baiknya memiliki pemandu keilmuan agama yang ahli, sehingga terciptalah pembelajaran ilmu agama yang benar dan tercegah dari paham intoleran.

 

About Irsan Rasyad

Mahasiswa aktif dalam Pendidikan Sarjana S1 Program Studi Digital Communication, Surya University Tangerang, Banten. Alumni Pondok Pesantren Annur Azzubaidi, Konawe Sulawesi Tenggara ini juga aktif sebagai anggota Duta Damai Dunia Maya BNPT untuk regional Jakarta.

Check Also

Islam Memanusiakan Manusia

Diantara sekian problem sosial, kemanusiaan dan keagamaan yang dewasa ini makin merabah baik di tingkat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Watch Dragon ball super