Berita

Gerakan Anti Radikalisme Untuk Anak, Dimulai Dari Keluarga

Written by Anis Soyyati

Gerakan Anti Radikalisme Untuk Anak

Keluarga merupakan benteng pertahanan utama bagi seorang anak. Orang tua dan pengajarannya sangat mempengaruhi bagaimana sang anak berperilaku. Selain itu, pendidikan dasar merupakan landasan bagi anak untuk mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan dan cinta damai.

Dalam keluarga, pengajaran nilai-nilai kemanusiaan dapat diberikan mulai dari kebiasaan sehari-hari. Oleh karena itu orang tua harus mengajarkan dan membekali anak soal ini sejak kecil, karena anak akan mengikuti dan meniru hal-hal yang dilakukan orang tuanya.

Keluarga adalah dasar sekaligus benteng untuk hal-hal negative termasuk radikalisme.

 

 

Keluarga dan pendidikan dasar jadi pondasi kuat untuk mencegah anak dari propaganda radikal. Orangtua harus peka terhadap lingkungan dan perkembangan si anak. Sekolah juga harus ajarkan ajaran-ajaran soal kedamaian dan kebaikan, dan bukan sebaliknya.

“Jika orang tuanya pecinta negara maka banyak hal yang harus dilakukan mereka untuk mencegah sang anak dari propaganda radikal. Jangan lupa keluarga dan pendidikan dasar adalah pondasi penting bagi perkembangan anak,” kata Psikolog Anak dan Keluarga dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Anna Surti Ariani, SPsi, MSi.,Psi kepada media, Selasa (24/5) mengomentari video yang memperlihatkan anak-anak Indonesia dan Malaysia sedang berlatih  menggunakan senjata di Suriah yang muncul minggu lalu.

Hal utama yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk mencegah anak dari propaganda radikal adalah membekali sang anak dengan kemampuan berpikir kritis, sehingga tak mudah percaya dengan informasi yang ia dapatkan dari orang lain.

“Ini penting karena anak biasanya menerima mentah-mentah apa yang dikatakan orang lain,” katanya.

Orangtua juga harus selalu jalin kedekatan dengan anak, sehingga anak nyaman bicara dengan keluarga. Dalam hal ini, orang tua tidak harus mengekang anak, namun orang tua harus kenali teman-teman sang anak. “Perhatikan bagaimana mereka berinteraksi dan carikan aktivitas positif buat mereka. Termasuk perubahan yang dialami anak-anak, misalnya anak jadi semakin kasar, atau terus protes pada kebijakan pemerintah yang disiarkan televisi, atau menganggap paham radikal tertentu sebagai hal yang benar,” kata Anna Surti.

Para orang tua diharapkan dapat memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi pada anak, mulai dari barang-barang yang dimilikinya, dan bersikap kritis dengan beberapa mainan yang dipunyai sang anak. Karena, keluarga adalah hal utama yang paling penting untuk mencegah propaganda radikalisme dan terorisme, karena keluarga adalah pihak yang paling dekat dengan sang anak.

Facebook Comments

About the author

Anis Soyyati

Seorang mahasiswa tingkat akhir, jurusan Digital Communication yang aktif menulis artikel dibeberapa website. Salah satu dari Baidu Campus Ambassador 2015 dan Duta Damai Dunia Maya BNPT 2016. Seorang yang menyukai design grafis ini tertarik pada sosial media planner dan saat ini sedang merintis bisnis hijab online di instagram @Nizza_Hijab.

1 Comment

  • syukur la pak latif sbb anak anda yg derhaka itu masih sudi meletakkan nama anda di belakang nama dia.. masih berbangga membawa nama anda di dunia seni ini.. klau dia tak kenang budi mesti dia dh hilangkan nama anda. “NAJWA LATIF” tetap tak lupa membawa nama bapanye kemana2… ke pak latif nak mintak royalti dr si najwa ni sbb guna nama dia? heee.e.hWhll-loved.

Leave a Comment