Berita

Ini Cara Lindungi Anak Sejak Dini Dari Paham Radikalisme

Written by Anis Soyyati

12345

Penanggulangan paham radikalisme yang telah menyebar memang tidak mudah, dan harus dilakukan secara komprehensif. Hal yang dapat kita lakukan untuk menguranginya adalah, melakukan tindak aksi kepada para pelaku penebar paham radikal. Selain itu juga harus berusaha memproteksi calon korbannya.

Anak-anak merupakan calon korban yang paling rentan dalam penyebaran paham radikalisme dan terorisme. Oleh karena itu, kita wajib diberikan pendidikan bahaya tersebut sejak dini. Pencegahan tersebut dapat dilakukan dengan tindakan terhadap anak dan pelajar dengan strategi khusus.

Seperti yang dikatakan oleh Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Maria Advianti, di Jakarta yang dilansir dari monitorday.com: “Anak punya hak dilindungi dari propaganda radikalisme dan terorisme. Harus ada perlindungan khusus,  melalui edukasi (pendidikan) soal ideologi dan nilai nasionalisme. Bentuknya bisa macam-macam, bisa melalui kurikulum pelajaran sekolah mulai usia dini, ataupun sosialisasi pemahaman ancaman paham radikalisme dan terorisme kepada orang tua.”

Seperti yang kita ketahui, kelompok penganut paham kekerasan dan terorisme, khususnya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah mengeksploitasi anak-anak melalui propaganda-propaganda di dunia maya. Bahkan dari beberapa video propaganda itu, ISIS jelas-jelas menjadikan anak Indonesia sebagai target untuk direkrut masuk dalam jaringan mereka.

Menurut Maria Advianti,  ini sangat menyedihkan karena anak-anak itu masih  hijau dan tidak seharusnya dijadikan ‘sandera’ dalam penyebaran paham kekerasan dan terorisme itu. Kondisi itulah yang mengharuskan pemerintah Indonesia, melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai koordinator pencegahan terorisme di Indonesia, bisa memberikan perlindungan anak dari penyebaran paham tersebut.

“Anak yang telah menjadi korban indoktrinasi radikalisme memerlukan rehabilitasi untuk mengkoreksi nilai-nilai ideologi terorisme yang telah diserapnya selama masa inkubasi. Upaya rehabilitasi bagi anak korban propaganda kekerasan dan terorisme itu jadi penting dalam mencegah terjangkitnya ‘virus’ ini ke anak-anak,” kata Maria.

Maria menjelaskan bahwa tidak perlu kurikulum khusus dalam melakukan pencegahan terhadap radikalisme, karena bisa diintegrasikan dengan mata pelajaran budi pekerti, agama, atau yang terkait. “Pastinya sangat perlu materi pencegahan terorisme ada di sekolah-sekolah,” lanjut Maria.

Sementara itu, guru besar Ilmu Tasawuf Universitas Islam Negeri (UNJ) Jakarta, Prof Dr Asep Usman Ismail , MA memberi pendapat soal mencegah paham radikalisme di kalangan anak dan pelajar. “ Ada beberapa strategi untuk mencegah paham radikal di kalangan pelajar. Pertama, tercantum atau ada pelajaran khusus pendidikan anti kekerasan. Kedua, masuk dalam semua pelajaran, agama, sejarah, IPS, dll, ” kata Prof Asep.

 

dilansir dari monitorday.com

Facebook Comments

About the author

Anis Soyyati

Seorang mahasiswa tingkat akhir, jurusan Digital Communication yang aktif menulis artikel dibeberapa website. Salah satu dari Baidu Campus Ambassador 2015 dan Duta Damai Dunia Maya BNPT 2016. Seorang yang menyukai design grafis ini tertarik pada sosial media planner dan saat ini sedang merintis bisnis hijab online di instagram @Nizza_Hijab.

1 Comment

  • Evelyn,I am so glad that you made this comment.  Thank you for your encouraging, affirming res;bks.&nbmpa&nrsp; I am glad that in some way this site has been encouraging to you.  I hope you will comment again.  I would enjoy hearing from you as often as you wish to comment.I am in Waco (Tx) and am with Crestview Church of Christ.  I have been here almost fifteen years.Thanks again! 

Leave a Comment