Opini

Penanaman Toleransi Sejak Dini di SabangMerauke 2016

Written by Bunderan

penanaman toleransi dini di SabangMerauke
Nilai toleransi dan kekeluargaan bisa lho diresapi saat kamu bergaul setiap hari dengan orang yang berbeda latar belakang. Apalagi kalau tinggal serumah.

Itulah yang terjadi kalau kamu mengikuti program SabangMerauke atau singkatan dari Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali. Tahun ini program ini digelar selama 3 pekan, melibatkan 15 pelajar Sekolah Menengah Pertama dan 15 mahasiswa.

Kesan mendalam disampaikan oleh Iseh Mohamad Asnawi, yang akrab dipanggil Asnawi, seorang pelajar SMP dari Kabupaten Kudus. Begitu juga yang dirasakan oleh Fajar Selawati, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta.

Asnawi bilang banyak belajar soal toleransi, pendidikan, dan ke-Indonesiaan. Tidak hanya diperbincangkan tapi juga melakukan arti dari toleransi itu sendiri, sebab dia tinggal selama 3 pekan di rumah Pak Aldrin, sang Famili SabangMerauke (FMS), yang beragama Kristen.

Asnawi sangat taat dan rajin beribadah. Sampai-sampai Pak Aldrin mencarikan kiblat di rumahnya untuk Asnawi. Pak Aldrin bangga dengan semangat Asnawi yang ingin meraih cita-citanya menjadi ustadz, dokter, dan ingin punya rumah sakit sendiri.

Keduanya pun sangat merasakan adanya perbedaan. Namun perbedaan tersebut tidak menjadi masalah justru sebaliknya, menjadikan Pak Aldrin dan Asnawi sama-sama belajar.

Begitu juga Fajar. Semula dia tidak percaya adanya toleransi antar agama. Sekarang dia menyadari adanya hal tersebut dan merasa toleransi antar suku dan juga budaya itu sangat diperlukan.

Keberagaman itu indah

Managing Director SabangMerauke 2016, Irma Sela Karlina, berharap saat peserta SabangMerauke kembali ke daerahnya, mereka bisa membantu menanamkan nilai dan menjadi duta toleransi, pendidikan, dan duta keindonesiaan.

Maksud duta toleransi adalah seseorang yang mampu menyebarkan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat beragam dan keragaman itu sebagai suatu yang baik serta indah. Ia juga berharap, tidak ada lagi kecemburuan sosial antar daerah.

“Kita tidak perlu merasa bahwa orang Barat jauh lebih baik dari orang Timur, agama yang satu lebih baik dari yang lain, atau sebaliknya. Karena hal-hal seperti itu terjadi di daerah mereka dan kami ingin menanamkan nilai toleransi sedini mungkin dan menyebarkan nilai itu ke teman-teman sebaya mereka,” kata Sela

Bisa dibayangkan, jika anak-anak muda sudah memiliki semangat toleransi yang tinggi, maka ke depannya Indonesia akan menjadi tempat yang lebih damai. Sehingga jelas bahwa usaha SabangMerauke sangat layak diapresiasi. Mari bantu usaha mereka dengan menghargai perbedaan dan keberagaman, demi Indonesia yang lebih baik!

Penulis: Kak Hay. Find Me on Facebook dan Instagram

Facebook Comments

About the author

Bunderan

--

1 Comment

  • I was just seeking this info for some time. After 6 hours of continuous Googleing, finally I got it in your web site. I wonder what is the Go871e&#o2lg;s problem that doesn’t rank this type of informative web sites closer to the top. Normally the top web sites are full of garbage.

Leave a Comment