Home / Opini / Terorisme: kegelapan terhadap makna jihad

Terorisme: kegelapan terhadap makna jihad

Dibalik kepercayaan diri para pelaku teror bahwa mereka mengaku sebagai mujahidin yang memperjuangkan agama yang benar dan merasa jalan hidupnya merupakan suatu kebenaran. Pola pikir mereka terperangkap dalam jurang kegelapan, kesadaran mereka dibutakan dengan ayat-ayat sebagai dalil pembenaran, secara tidak sadar bahwa hakikat buruk tapi dipandang baik baik dan sebaliknya. Realita paham ekstrimisme membalikan semua fakta kebenaran.

Menelaah sejarah awal muncul terorisme di indonesia di mulai sejak dekade 50-an. Menurut BNPT pemerintah kala itu menumpas secara besar-besar terhadap kelompok DI/TII Daud Beureueh oleh militer yang hendak memperjuangkan negara islam di wilayah aceh. Sejak adanya tekanan berat dimasa orde baru kelompok tersebut pindah ke wilayah negara Malaysia, di negeri tersebut mereka mendapat ruang luas untuk memperluas jaringan di negeri malaysia dan luar negeri.

Perluasan sekala international yang dilakukan kelompok pecahan dari DI/TII Daud Beureueh mempertemukan mereka untuk berperan membentu konflik di Afganistan, pada akhirnya mereka melakukan persentuhan dengan Jamaah Islamiyah (JI). Mulai dari persentuhan tersebut mereka yang berjuluk mujahid mengalami pencucian otak terhadap paham islam garis keras. Kemudian para mujahid  yang bergabung sebagai Jamaah Islamiyah kembali ketanah air sejak masa reformasi. Pada masa reformasi tekanan militer terhadap kelompok radikal sudah semakin melemah lantas dimanfaatkan untuk melancarkan aksi-aksi terornya di tanah air yang kian meningkat. Seperti aksi bom bali satu tahun 2002, bom bali II, bom Kuningan dan lain sebagainnya.

            Mereka melakukan sekian aksi teror berlandas pada kewajiban diri untuk berjihad, tentunya pemahaman tersebut lahir dari bibit radikalisme, tanpa sadar mereka menyisihkan hak hidup manusia bahkan tidak menyadari jika perlakukannya jauh dari nilai kebenaran. Mereka yang berpaham radikal seperti hidup dalam jurang kegelapan, sudah tidak ada batasan pandangan yang dapat dilihat, mereka menerjang siapa-siapa saja yang ada dihadapanya untuk mencapai tujuan.

Padahal kita hidup berdampingan sesama manusia yang seharusnya memelihara hubungan dengan baik. Teringat kata mutiara Gus Dur “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, merendahkan dan menistakan manusia, bearti merendahkan dan menistakan penciptanya”. Di sisi lain mereka pelaku teroris hanya korban dari pemahaman radikal atas bujuk rasa akan janji dan imingan imbalan. Mereka tersesatkan pada makna jihad yang sebenarnya. Majlis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan dalam Fatwa Nomor 3 Tahun 2004 bahwa jihad itu wajib dalam kondisi perang agama yang mengancam keberlangsungan sebuah negara dan masyarakatnya. Sedangkan para paham radikal terorisme bukan memperjuangkan islam, justru mereka menciptakan rasa takut di masyarakat yang mengancam keselamatan hidup manusia.

Sahabat bunderan sebagai generasi penerus bangsa, menjadi tugas penting untuk menjaga nilai nasionalisme sebagai warga negara indonesia dan menjadi manusia beragama yang sesuai dengan ajarannya, hanya kecintaan pada bangsa dan luasnya pemahaman agama yang mampu menjauhkan diri kita dari paham/pemikiran radikalisme.
Penulis:

Muhammad Irsan Rasyad

Facebook Comments

About Irsan Rasyad

Mahasiswa aktif dalam Pendidikan Sarjana S1 Program Studi Digital Communication, Surya University Tangerang, Banten. Alumni Pondok Pesantren Annur Azzubaidi, Konawe Sulawesi Tenggara ini juga aktif sebagai anggota Duta Damai Dunia Maya BNPT untuk regional Jakarta.

Check Also

Bersatulah dan Jangan Bercerai Berai

Islam adalah agama perdamaian… Karena Islam adalah agama yang membawa perdamaian, maka para musuh Islam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Watch Dragon ball super