Home / Opini / Life & Love / Semangat Bhineka Tunggal Ika Terancam di Media Sosial

Semangat Bhineka Tunggal Ika Terancam di Media Sosial

Pada dasarnya masyarakat indonesia harus mengerti bahwa perbedaan lapisan dari segala unsur semakin diperketat melalui Bhinneka Tunggal Ika. Dalam kata lain, segala hal yang menjadi pemicu perbedaan diantara masyarakat Indonesia, seharusnya dapat diselesaikan dengan baik-baik dan dideklarasikan sebagai pegangan dan pembelajaran bagi kita untuk tidak mempersoalkan mengenai perbedaan.

Kejadian di Tanjung Balai mengingatkan kita akan lemahnya Pancasila ayat 3 yang berbunyi “Persatuan Indonesia”. Bukan hanya itu, masyarakat Indonesia terlihat rapuh dan mudah diprovokasi akan hal-hal yang berbau SARA. Disisi lain, hal ini menjadi angin segar bagi oknum-oknum atau segerombolan kelompok yang ingin menghancurkan persatuan dan menciptakan gesekan sosial.

Propaganda di Media Sosial Hingga Perspektif yang Keliru Terhadap Makna Toleransi

Kejadian Tanjung Balai muncul ketika terjadi provokasi di media sosial oleh seorang oknum yang membuat keramaian. Postingan-postingan provokasi menyebar luas hingga seruan pembakaran vihara. Hal itu yang kemudian menjadi awal mula kronologi terjadinya kasus kerusuhan Tanjung Balai.

Beragamnya suku, ras dan agama di Indonesia di masing-masing wilayah dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan membuat keramaian dengan memunculkan postingan-postingan negatif di media sosial. Perbedaan yang seharusnya menjadi keberagaman telah terguncang oleh adanya postingan-postingan tersebut.

Makna toleransi kemudian menjadi hal yang rumit untuk dipahami, karena perspektif yang keliru hingga masyarakat yang hanya sebelah mata menganggap bahwa toleransi itu generalisasi. Seharusnya masyarakat semakin cerdas dan kritis dan tidak menelan mentah-mentah informasi yang baru saja mereka dapatkan.

Untuk itu diharapkan kepada masyarakat Indonesia yang ber-media sosial dapat memahami betul informasi maupun berita yang ingin disampaikan. Serta dapat dengan bijaksana menyikapi berita dan provokasi, sehingga tidak selalu meng-generalisasi bahwa itu suku tertentu, agama tertentu atau ras tertentu. Tetapi, hal tersebut hanya sebuah trik untuk memecah belah masyarakat Indonesia.

Mereka menyiramkan api di medsos, kita siramkan air sebagai tandingannya. Propaganda lawan dengan propaganda. Provokasi lawan dengan edukasi.

Sejarah telah memberikan pembelajaran kepada kita bahwa tanpa adanya toleransi sosial dalam keberagaman, tidak ada yang dapat kita banggakan. Hal itu juga menjadi kekuatan bagi suatu negara dan tolak ukur keberhasilan dalam keberagaman.

 

Dilansir dari berbagai sumber

Facebook Comments

About Anis Soyyati

Seorang mahasiswa tingkat akhir, jurusan Digital Communication yang aktif menulis artikel dibeberapa website. Salah satu dari Baidu Campus Ambassador 2015 dan Duta Damai Dunia Maya BNPT 2016. Seorang yang menyukai design grafis ini tertarik pada sosial media planner dan saat ini sedang merintis bisnis hijab online di instagram @Nizza_Hijab.

Check Also

Bersatulah dan Jangan Bercerai Berai

Islam adalah agama perdamaian… Karena Islam adalah agama yang membawa perdamaian, maka para musuh Islam …

One comment

  1. There is really no other way to live other than through intuition. The mind can only push through to some extent. But when frtisratuon appears due to seemingly bad choices, it is intuition that shows us the way.Most of us miss the way because intuition speaks too softly. You have to listen with focus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Watch Dragon ball super